23 November 2009

20 Kasus Flu Babi Ditemukan di Tanah Suci

Jumat, 20 November 2009


JAKARTA, KOMPAS.com — Sebanyak 20 kasus flu babi atau A-H1N1 dilaporkan telah ditemukan di kalangan anggota jemaah haji dari seluruh dunia yang berdatangan ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima sejak Oktober lalu.

"Dua belas orang di antara mereka masih dirawat, selebihnya masih diobservasi," kata Menteri Kesehatan Arab Saudi Dr Abdullah Al-Rabeeah seperti dikutip Arabnews.com, Jumat.

Menkes Arab itu tidak menyebutkan asal kebangsaan pasien. Namun, ketika dikonfirmasi ke Ketua Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) dr Barita Sitompul, tidak ada anggota jemaah haji Indonesia yang terbukti mengidap virus tersebut.

Menurut dia, memang ada tiga anggota jemaah haji Indonesia yang tertangkap kamera pemindai panas tubuh yang dipasang di bandara debarkasi (Jeddah dan Madinah). Namun, setelah diobservasi di Rumah Sakit King Saud Jeddah yang dirujuk untuk menangani kasus-kasus A-H1N1 , ketiganya dinyatakan negatif dari infeksi penyakit yang telah menjadi pandemi itu.



Menurut dr Barita, ketiga anggota jemaah itu hanya mengalami influenza karena kelelahan akibat perjalanan panjang dari Tanah Air menuju Tanah Suci.

Menkes Arab itu selanjutnya mengatakan bahwa, untuk mengantisipasi kemugkinan wabah flu babi merebak, khususnya pada saat musim haji, ia telah menunjuk 80 konsultan untuk menangani pusat kesehatan intensif yang dikelola pakar-pakar pengawasan penyakit menular dari Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Ia juga menjamin persediaan l,5 juta dosis vaksin A-H1N1 yang disediakan untuk  jemaah haji. Sehari sebelumnya, pihaknya juga melakukan koordinasi guna membahas persiapan layanan kesehatan yang akan diberikan kepada jemaah haji.

"Kami akan lakukan tindakan antisipasi (precautionary action) untuk melindungi jemaah haji dari berbagai penyakit, termasuk flu babi," ungkapnya seraya menambahkan bahwa sebuah laboratorium Robotic, Cognitif, dan Biometic (BCR) telah dioperasikan di Mina dan Mekkah untuk mendeteksi virus flu babi.

Kementerian Kesehatan Arab, lanjutnya, juga telah membangun 14 rumah sakit di Mekkah berkapasitas 2.782 tempat tidur, termasuk 244 tempat tidur di ruang perawatan intensif dan 287 tempat tidur di ruang rawat darurat.

Selain itu, masih ada 35 pusat kesehatan permanen di Mekkah, sembilan pusat kesehatan selama musim haji di ruas jalan bebas hambatan Mekkah-Madinah dan empat lagi di kawasan Masjidil Haram.

Sebanyak 28 pusat kesehatan akan dioperasikan di Mina, 46 pusat di Padang Arafah dan 6 pusat kesehatan di Muzdalifah. Lebih dari 2,5 juta umat Islam sedunia diperkirakan akan "tumplek" pada acara rangkaian puncak ritual ibadah haji (Wukuf di Padang Arafah dan melontar jumrah di Mina mulai 9 hingga 12 Zulhijah (26-30 November).

Kementerian Arab Saudi merekrut 10.000 tenaga kesehatan, termasuk 100 dokter, yang 60 orang di antaranya dokter ahli penyakit menular dari mancanegara dan 147 perawat untuk menangani unit layanan darurat dan intensif di pusat-pusat kesehatan selama musim haji 1430 H.

Sebanyak 62 orang tewas di Arab Saudi akibat terinfeksi virus A-H1N1 dari sekitar 7.000 orang yang terduga terinfeksi. Namun, 95 persen di antara mereka dilaporkan sembuh total.


Sumber berita : http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/11/20/13454135/20.kasus.flu.babi.ditemukan.di.tanah.suci

4 komentar:

sami mengatakan...

jutaan orang berkumpul dalam tempat dan waktu yang bersamaan, separti umat islam yang sedang melaksanakan ibadah haji, bisa kita bayangkan repotnya, ditambah lagi bila ada penyakit yang dapat mengancam dan menular kepada orang lain, seperti H1N1. beruntung pemerintah indonesia dan pemerintah arab saudii sudah mengantisipasinya. kepada jamaah haji indonesia tetap harus waspada.

Anonim mengatakan...

Banyaknya jamaah haji yang berkumpul dari berbagai negara sudah pasti bisa menimbulkan berbagai macam penyakit transinternasional seperti flu babi tersebut, di sinilah penting pemberian vaksin anti flu babi kepada para jamah haji khususnya dari Indonesia.

Anonim mengatakan...

Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama seharusnya menjalin kerjasama yang intens dengan Depkes utk mengoptimalkan pengawasan para jamaah haji Indonesia, terutama para tenaga kesehatan haji yng merupakan link terdepan dalam pengawasan dan pemeriksaan kesehatan jamaah haji Indonesia.

Anonim mengatakan...

Menjaga perilaku hidup bersih dan sehat sangat penting dalam mengantisipasi tertularnya penyakit, dan tak kalah pentingnya menjaga daya tahan tubuh masing-masing jamaah atau kelompok haji. Tidak ada jaminan Jamaah bisa tertular virus flu babi karena nyatanya pemerintah hanya sekedar memberikan vaksin hanya untuk antisipasi sakit flu biasa.

Posting Komentar