Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

17 Desember 2009

PMI Terima Donasi Dari pemerintahan Afrika Selatan

Palang Merah Indonesia (PMI) telah menerima donasi dengan jumlah sekitar Rp600 juta dari Pemerintah Afrika Selatan yang akan dimanfaatkan antara lain untuk membantu korban gempa di wilayah Sumatra Barat.

Ketua Bidang Dana Markas Pusat PMI Salahuddin Nyak Kaoy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (17/12), mengatakan, donasi tersebut akan digunakan untuk melanjutkan program penanggulangan bencana di Sumatra Barat.

23 Oktober 2009

PMI Bangun 2.000 Rumah Bambu Untuk Sumbar

Palang Merah Indonesia (PMI) berencana membangun sebanyak 2.000 rumah bambu sebagai tempat hunian sementara bagi korban gempa bumi di wilayah Provinsi Sumatra Barat.

Berdasarkan siaran pers dari PMI di Jakarta, Jumat (23/10), program rumah bambu tersebut merupakan target penting untuk direalisasikan mengingat terdapat ribuan warga yang saat ini hidup di tenda-tenda pengungsian.

Rumah bambu menjadi konsep unggulan PMI untuk program sementara para korban gempa. Contoh rumah bambu yang telah rampung terdapat di halaman kampus Universitas Bung Hatta di Kota Padang.

Koordinator Operasional Posko PMI Daerah Sumatra Barat Hidayatul Irwan memaparkan, 2.000 unit rumah bambu rencananya akan segera direalisasikan setelah penandatanganan kesepakatan kerjasama antara PMI dan pihak pemerintah daerah setempat pada Sabtu (24/10) mendatang.

Irwan juga memaparkan, terdapat tiga macam klasifikasi ukuran rumah bambu, yaitu 4x4 meter, 4x4,5 meter, dan 4x6 meter.

Setiap unit rumah bambu yang memiliki kapasitas lima orang itu diperkirakan membutuhkan anggaran biaya dari Rp2,5 juta hingga Rp3 juta.

Hunian sementara tersebut direncanakan akan dibangun di Kota Padang, Kota Pesisir Selatan, Kabupaten Pariaman, dan Kabupaten Agam.

Untuk tahap pertama, PMI merekomendasikan pembangunan dilakukan di Desa Tungkal Selatan yang mengalami kerusakan terparah dibandingkan dengan desa lainnya di daerah Pariaman Utara.

Terdapat 35 relawan PMI yang dikerahkan untuk terlibat pada tahap pertama proses pendirian rumah bambu.

Mereka berasal dari PMI Cabang Padang, PMI Cabang Padang Pariaman, PMI Cabang Agam, dan PMI Cabang Pesisir Selatan.(Zh/At)




Sumber: berita8.com


05 Oktober 2009

Vaksinasi tetanus toxoid untuk para Relawan

Jakarta - Depkes. Untuk menanggulangi masalah kesehatan akibat gempa di Sumatera Barat, Tim Kesehatan Ditjen P2PL Depkes, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Padang dan Dinkes Prov. Sumatera Barat kemarin tanggal 4 Oktober 2009 melakukan penyemprotan desinfektan untuk mencegah penularan penyakit di lokasi bencana. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan mist blower di 8 wilayah Padang Barat di sekitar gedung roboh mencakup sekitar 320 titik. Selain itu, untuk mengatasi kekurangan air bersih juga dilakukan sosialisasi penjernihan air cepat di 3 lokasi pemukiman penduduk di Kota Padang. Sedangkan untuk melindungi Regu penolong (relawan) dari ancaman penyakit tetanus Tim Kesehatan juga melakukan vaksinasi TT (Tetanus Toxoid) kepada 119 relawan di 3 lokasi bencana.

Depkes Buka Kantor di Padang

Jakarta - Depkes. Untuk melakukan koordinasi, memberikan saran dan kerja sama dengan pihak terkait dalam memberikan bantuan kesehatan terhadap korban bencana Sumatera Barat, Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) membentuk Tim Penanggulangan Bencana Gempa Bumi Sumatera Barat dengan Pengarah, dr. Sjafii Ahmad, MPH, Sesjen Depkes, Ketua Umum dr. Budihardja, MPH, DTM&H, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dan Wakil Ketua Umum dr. Rustam S. Pakaya, MPH, Kepala Pusat Penanggulangan Krisis. Tim dibantu, Ketua I, dr. Farid W. Husain, Dirjen Bina Pelayanan Medik, Ketua II, Dra. Kustantinah, Apt.M.Appt.Sc, dan Ketua III, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama dengan Sekretaris para Sekretaris Unit Utama.

03 Oktober 2009

Depkes Catat Korban Gempa Sumbar 4.237 Orang

Jakarta - Depkes. Sampai Sabtu (3/10) pukul 10.00 WIB berdasarkan informasi yang dikumpulkan PPK Depkes, jumlah korban akibat gempa bumi di Sumatera Barat mencapai 501 orang meninggal dunia dengan rincian 197 orang di Kota Padang, 49 di Kota Pariaman, 7 orang di Kota Bukittinggi, 4 orang di Kota Solok, 211 orang di Kab. Padang Pariaman, 7 orang di Kab. Pesisisr Selatan, 3 orang di Kab. Pasaman Barat, dan 23 di Kab. Agam.

02 Oktober 2009

Hingga 2 Oktober 2009 Pukul 07.00, Korban Gempa Akibat Gempa Mencapai 2.952 Orang

Hingga hari Jumat (2/10) pukul 07.00 berdasarkan informasi yang dikumpulkan PPK Depkes, jumlah korban akibat gempa bumi mencapai 2.952 orang, terdiri 390 orang meninggal dunia, 460 orang luka berat (102 orang di Kota Pariaman, 312 orang di Kota Padang, 34 orang di Kab. Agam, 3 orang di Kota Bukit Tingg, 8 orang di Kab. Pesisir Selatan dan 1 orang di Kab. Solok) serta 2.102 orang luka ringan (1.590 orang di Kota Padang, 500 orang di Kab. Padang Pariaman, 8 orang di Kota Padang Panjang (RS Ibnu Sina), dan 4 orang di kota Solok).

01 Oktober 2009

PADANG DIGUNCANG GEMPA

Gempa berkekutan 7,6 pada Skala Richter kembali  menggucang Sumatera Barat tanggal 30 September 2009 pukul 17.16 pada kedalaman 71 Km yang berlokasi di 0,84 LS – 99,65 BT (57 Km Barat Daya Pariaman – Sumbar). Gempa bumi tersebut mengakibatkan Kota Padang dan Pariaman mengalami kerusakan paling parah. Beberapa unit rumah, rumah sakit, rumah ibadah, gedung sekolah dan gedung pemerintah rusak.

06 September 2009

Korban Gempa di Ciamis Kekurangan Sembako

Tasikmalaya (ANTARA News) - Korban gempa Tasikmalaya yang menimpa Kecamatan mangunjaya, Kabupaten Ciamis, Jabar, mengaku kekurangan sembako untuk kebutuhan selama ditempatkan di tenda pengungsian.

Syuhada (35) salah seorang warga yang mengungsi mengatakan sejak terjadinya gempa bumi Rabu lalu, bantuan sembako yang datang dari TNI Kodim Ciamis, beberapa kelompok dan instansi swasta, sedangkan dari pemerintah baru dua kali memberi bantuan.

"Bantuan yang sudah diberikan hanya cukup untuk satu hari dan sekarang warga kekurangan bahan makanan," katanya di tempat pengungsian, Minggu.

Dikatakannya, bantuan yang telah diberikan berupa mie dan beras dari komunitas Budha Suci, Indosat, dari kepresidenan dan TNI, yang seluruhnya dibagikan kepada warga di pengungsian sudah habis dalam satu hari satu kali pembagian.

"Jadi warga hanya menunggu bantuan lagi. Sekarang saja (Minggu, red) yang baru dibagikan dari kepresidenan sudah hampir habis," katanya.

Tenda pengungsian yang sudah tersedia dipasang sebanyak delapan tenda besar dari TNI, satu tenda dari Indosat, dari Budha Suci 100 tenda kecil dan satu tenda besar yang digunakan untuk kegiatan belajar.

Diharapkannya ada tambahan tenda baru dari pihak lain khususnya dari pemerintah daerah kabupaten Ciamis segera menyediakan tenda besar untuk warga di pengungsian yang berjumlah sebanyak 515 orang.

"Tenda belum cukup menampung warga di pengungsian," katanya.

Sementara itu menurut petugas Kesra Kabupaten Ciamis, Taufik Hidayat, dari 39 Kecamatan yang tersebar, wilayah Kecamatan Mangunjaya merupakan daerah yang mengalami kerusakan rumah dan fasilitas umum cukup parah. Korban jiwa meninggal dunia enam orang di Kabupaten Ciamis, dua orang diantaranya dari Mangunjaya.

Kecamatan Mangunjaya yang mengalami kerusakan cukup berat yakni Desa Sindang Jaya, Kersa Ratu, Cirapuan, Babakan, dan Hegarmanah, seluruh bangunan di desa tersebut 80 persen hancur.

"Semuanya rusak berat dan sekarang dari pengajuan warga membutuhkan bantuan sembako, air bersih dan tenda," katanya.

Sementara itu jarak tempuh menuju wilayah Kecamatan Mangunjaya sekitar 40 kilometer dari kota Ciamis, dengan keberadaan titik lokasi pengungsian di pedalaman dari jalan raya Ciamis-Pangandaran.(*)

Bantuan Korban Gempa Alami Kendala Distribusi

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie mengatakan bantuan untuk korban gempa di Jawa Barat belum bisa menjangkau seluruh titik karena ada kendala dalam pendistribusian bantuan.

"Bantuan untuk korban bencana cukup banyak, tapi memang masih ada kendala dalam distribusi, sehingga beberapa titik belum terjangkau," katanya usai menemui perwakilan korban luapan lumpur Lapindo di rumah dinasnya di Jalan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu sore.

Distribusi bantuan, katanya, terganggu karena sebagian jalur jalan menuju ke lokasi-lokasi yang terkena dampak gempa tidak mudah dilalui. "Pemerintah daerah harus segera mengatasi masalah ini," katanya.

Ia menjelaskan pula bahwa pemerintah kabupaten dan provinsi punya otoritas untuk mengeluarkan stok beras yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan korban gempa. "Jadi seharusnya itu tidak jadi masalah," katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pemerintah juga akan memberikan bantuan untuk perbaikan rumah warga yang rusak akibat gempa.

"Bantuan rehabilitasi akan diberikan, tapi bentuknya seperti apa dan berapa besar, akan dibahas lebih dulu," jelasnya.

Rabu (2/9) lalu, gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter yang berpusat di 142 km barat daya Tasikmalaya pada kedalaman 30 km mengguncang sebagian wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Sabtu (5/9) jumlah korban meninggal dunia akibat gempa sebanyak 70 orang dengan rincian, Kabupaten Cianjur (27), Kabupaten Garut (7), Kabupaten Sukabumi (3), Kabupaten Tasikmalaya (4), Kota Tasikmalaya (5), Kabupaten Bandung (15), Kabupaten Bandung Barat (1), Kabupaten Bogor (2), dan Kabupaten Ciamis (6).

Selain itu, di Kabupaten Cianjur 32 orang masih dinyatakan hilang.

Gempa juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur, bangunan publik dan perumahan penduduk.(*)



04 September 2009

7.803 Orang Mengungsi Akibat Gempa di Tasikmalaya

Hingga hari kedua pasca gempa bumi tektonik di Tasikmalaya Jawa Barat, sebanyak 7.803 orang mengungsi di tempat-tempat penampungan sementara. Pengungsi tersebar dibeberapa tempat di Provinsi Jawa Barat (5.415 orang) dan di Provinsi Jawa Tengah (2.388 orang).

Akibat gempa ini sedikitnya 59 orang meninggal, 32 orang hilang, 144 orang luka berat dan harus rawat inap dan 523 orang luka ringan. Selain itu, beberapa sarana kesehatan juga rusak diantaranya 1 RS, 22 Puskesmas, 29 Pustu. Sementara infrastuktur yang rusak meliputi 111 unit sekolah, 399 masjid/mushola, dan 8 unit perkantoran.

Demikian informasi yang diterima Pusat Komunikasi Publik dari Kepala Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Depkes dr. Rustam S. Pakaya, MPH.

Menurut dr. Rustam, Departemen Kesehatan telah mengirimkan bantuan berupa 3 orang petugas ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kab. Cianjur membawa 25 kantong mayat, genset portable dan MP-ASI, 2 orang petugas ke Dinkes Kab. Tasikmalaya membawa 20 veltbed dan 2 orang petugas ke Dinkes Kab. Garut membawa MP-ASI 40 dus, obat paket, PAC 2 dus (1.000 sachet), dan polybag 1.000 buah. Depkes juga telah mengirimkan 5 ton MP-ASI ke 5 Kabupaten (Kab. Tasikmalaya, Kab. Cilacap, Kab. Cianjur, Kab. Garut dan Kab. Ciamis)

Bantuan yang dibutuhkan berupa 20 tenda pleton, 500 buah Velbed, 20 kantong mayat dan 1.500 selimut (Kab.Tasikmalaya), MP ASI untuk 2000 anak, 2.000 selimut, 10.000 pakaian dalam wanita, 300 kantong mayat, 500 velted, 5.000 kantong sampah, 500 paket higienis sanitasi dan 100 ampul ATS (Prov.Jawa Barat).

Dr. Rustam menyatakan, hingga saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi yang mengalami kejadian gempa bumi tektonik serta Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes

Pusat Penanggulangan Krisis Depkes Terjun Membantu Korban Gempa di Tasikmalaya

Jakarta: Tasikmalaya Diguncang Gempa 7,3 Skala Richter, pada tanggal 2 September 2009 pukul 14.55 WIB. Lokasinya 142 kilometer barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, pada kedalaman 30 km. Gempa tersebut berpotensi tsunami. Getaran gempa terasa cukup keras di Jakarta, Jawa Barat selatan, Jawa Tengah Selatan, dan Yogyakarta. Pihak BMKG mengingatkan adanya gempa susulan, dan diimbau warga di tepi pantai selatan untuk waspada mengingat gempa tersebut berpotensi tsunami.

Departemen Kesehatan telah mengirimkan 3 orang petugas ke Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur dengan membawa kantong mayat sebanyak 25 buah, genset portable dan MP-ASI, serta menyiapkan tim bantuan bila diperlukan. Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP, (K), hari ini juga mengunjungi korban gempa di Kab. Cianjur, kata dr. Rustam S. Pakaya, MPH, Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Depkes.

Menurut dr. Rustam, jajaran Dinas Kesehatan setempat telah melakukan berbagai upaya untuk menolong korban gempa antara lain pelayanan kesehatan di Puskesmas dan rumah sakit serta melakukan pemantauan di lokasi bencana.

Perkembangan akibat gempa bumi di Kabupaten Tasikmalaya tanggal 2 September 2009 jam 15.55 yang dipantau Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Depkes sampai dengan 3 September 2009 pk. 04.00 mengakibatkan 35 orang meninggal dunia dengan rincian :
  1. 11 orang di Kab. Cianjur,
  2. 4 orang di Kab. Garut,
  3. 3 orang di Kab. Tasikmalaya,
  4. 6 orang di Kab. Bandung,
  5. 1 orang di Kab. Sukabumi,
  6. 1 orang di Kab. Ciamis,
  7. 3 orang di Kota Tasikmalaya dan
  8. 6 orang di Kota Banjar.
Selain itu juga terdapat korban hilang sebanyak 40 orang di Kab Cianjur, kata dr. Rustam S. Pakaya, MPH . Masih menurut dr. Rustam S. Pakaya, korban luka berat sebanyak 75 orang, dengan rincian :
  1. 1 orang dirawat RSCM Jakarta,
  2. 1 orang dirawat di RSU Ciamis,
  3. 4 orang dirawat di Kab. Cianjur,
  4. 15 orang di Kab. Bandung,
  5. 29 orang di Kab. Tasikmalaya dan
  6. 25 orang di Kab. Garut.
Sedangkan korban luka ringan sebanyak 363 orang, dengan rincian :
  1. sebanyak 7 orang di RS MMC Jakarta,
  2. 19 orang di RS Jakarta,
  3. 4 orang di RSPP Jakarta,
  4. 10 orang di Kab. Cianjur,
  5. 2 orang di Kab. Sukabumi,
  6. 75 orang di Kab. Bandung,
  7. 22 orang di Kab. Garut,
  8. 200 orang di Kab. Tasikmalaya dan
  9. 24 orang di Kab. Ciamis.


Gempa juga mengakibatkan terjadi pengungsian sebanyak 2.000 orang yang tersebar di 5 kecamatan di kab Tasikmalaya. Sarana kesehatan yang rusak yaitu 1 unit Puskesmas rusak ringan di Kab Sukabumi dan 1 unit Puskesmas rusak berat di Kab. Tasikmalaya, tambah dr. Rustam.

"Bantuan yang dibutuhkan berupa Velbed sebanyak 500 buah, kantong mayat 20 dan selimut sebanyak 1500 buah, ujar dr. Rustam."

Jadi, kapan giliran kita untuk membantu ? Anda dapat membantu korban gempa bumi di Tasikmalaya melalui Forum Indonesia Sehat berupa barang-barang kebutuhan seperti selimut, pakaian layak pakai, dll. Bantuan ini akan kita salurkan melalui Departemen Kesehatan dan Departemen Terkait lainnya. Nomor Hotline dan SMS kami adalah : 0816.786300 dan 021.32.3535.29 (24 Jam)

03 September 2009

Laporan Permasalahan Kesehatan Aibat Banjir di Kab.Langkat, Sumatera Utara

Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat dan PPK Regional Sumtera utara pada tanggal 29 Agustus 2009 pukul 19.30 diketahui bahwa telah terjadi banjir di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Stabat, Desa Pantai Gemi dan Kecamatan Secanggang, Desa Perkotaan, Desa Karang Gading, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Banjir tersebut diakibatkan oleh meluapnya Sungai Blengking, yang mengakibatkan rumah tergenang sebanyak -+ 321 unit dengan ketinggian air hingga 70 cm. Saat ini ketinggian air 20 – 50 cm.

Tidak ada korban meinggal dan luka – luka, kunjungan korban banjir ke Pos Kesehatan sebanyak 42 orang dengan rincian Kecamatan Stabat 20 orang dan Kecamatan Secanggang 22 orang. Terjadi pengungsian di rumah Kepala Desa dan rumah yang tidak terendam banjir. Saat ini seluruh pengungsi sudah pulang ke rumah masing – masing.

Upaya yang dilakukan antara lain : mendirikan Pos Kesehatan 24 jam di Poskesdes dan Puskesmas, memberikan pelayanan kesehatan kepada korban banjir, melakukan surveilans aktif oleh petugas puskesmas untuk SKD penyakit menular, melakukan koordinasi dengan lintas sektor terkait baik kabupaten dan provinsi, PPK Regional mengirimkan bantuan obat- obatan (4 paket), MP ASI , Kaporit dan pembersih air cepat, desinfektan, dan melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan.

Saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat, PPK Regional Sumatera Utara dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.

Sumber: Depkes

Gempabumi Berkekuatan 7.3 SR Guncang Tasikmalaya

BMKG : Gempabumi tektonik kembali terjadi. Hari ini tanggal 2 September 2009, telah terjadi gempabumi di laut dengan kekuatan gempa 7,3SR. Gempa yang berpusat di 142 km BaratDaya Tasikmalaya Jawa Barat dengan kedalaman 30km dirasakan hampir seluruh pulau Jawa.

Di Jakarta sendiri kekuatan gempa mencapai IV Skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Sedangkan di Denpasar mencapai III Skala MMI. Gempa tersebut berpotensi tsunami. Namun setelah 1 jam setelah gempabumi, BMKG mencabut kesiagaan terhadap tsunami.

Menurut data yang diperoleh, tsunami memang terjadi, namun sangat kecil. Sedangkan Korban jiwa menurut laporan saat ini mencapai 15 orang. Mereka tersebar di Tasikmalaya, Sukabumi dan Cianjur.

Adapun gempa susulan masih diperkirakan akan terjadi. Masyarakat di wilayah bencana diharapkan untuk tidak panik, dan tetap waspada akan gempa susulan. Dan jangan terpengaruh oleh isu-isu yang menyesatkan.

Sumber : GMKG

02 September 2009

Permasalahan Kesehatan Akibat Banjir Bandang di Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara

Pada tanggal 26 Agustus 2009 pukul 16.50 WIB diperoleh informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal dan PPK Regional Sumatera Utara bahwa telah terjadi banjir bandang di Desa Bulusoma, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Banjir Bandang tersebut mengakibatkan rumah rusak berat sebanyak 16 unit dan rumah hanyut 1 unit. Jumlah penduduk berisiko sebanyak 105 jiwa.

Tidak ada korban meninggal dan luka – luka akibat kejadian tersebut. Juga tidak terjadi pengungsian.

Upaya yang dilakukan antara lain , membentuk Pos Kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan dan melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan.

Saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupatn Mandailing Natal, PPK Regional Sumatera Utara dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.

Sumber: Depkes

21 Agustus 2009

Mentawai Diguncang Gempa, Depkes Dirikan 7 Posko Kesehatan

Posted From : depkes.go.id 21 Aug 2009

Dari Dinas Kesehatan Kota Padang dan PPK Sub Regional Sumatera Barat diperoleh informasi bahwa pada tanggal 16 Agustus pukul 14.38 WIB telah terjadi gempa bumi di Provinsi Sumatera Barat dengan magnitude 6,9 SR dan kedalaman 32 km. Pusat gempa terjadi di 43 km Tenggara Siberut Mentawai. Gempa terutama dirasakan di Kota Pdang dan Kab. Kepulauan Mentawai.

Hingga tanggal 17 Agustus 2009 pukul 06.00 WIB , telah terjadi sebanyak 11 kali gempa susulan dengan magnutude berkisar antara 5,0 – 6,1 SR dan kedalaman antara 10 – 21 km.

Akibat kejadian tersebut mengaibatkan 1 rumah roboh di Kota Padang dan 20 rumah rusak berat di Kecamatan Siberut Selatan Kab. Kep. Mentawai.

Tidak ada korban meninggal dunia. Korban luka berat sebanyak 1 orang di RSU Dr. Jamil, Padang. Tidak terjadi pengungsian dan tidak ada sarana kesehatan yang rusak.

Upaya yang dilakukan antara lain : evakuasi korban, mendirikan 7 Pos Kesehatan yaitu 5 di RSU Dr. Jamil, Padang dan 2 di RS. Yos Sudarso, Padang, memberikan pelayanan kesehatan, menyiagakan 1 unit mobil operasi klinik lapangan, menyiagakan 2 unit mobil MCK, melakukan pemantauan di lokasi bencana, dan berkoordinasi dengan instansi terkait.

Saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Padang, Dinas Kesehatan Kab. Kepulauan Mentawai, PPK Sub Regional Provinsi Sumatera Barat dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.

06 Agustus 2009

Menkes Lantik 8.300 Pemuda Siaga Bencana

Posted from : depkes.go.id
Hari Selasa (04/08/09) Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) mengukuhkan 8.300 anggota Pemuda Siaga Peduli Bencana (Dasipena) DKI Jakarta di lapangan IRTI Monas, Jakarta Pusat. Anggota Dasipena DKI Jakarta berasal dari 5 wilayah dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Hadir dalam acara tersebut Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Wali Kota 5 wilayah, Bupati Kep.Seribu, para Rektor Universitas, para Alim Ulama dan Tokoh Masyarakat DKI Jakarta, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta Muspida setempat. Dengan diresmikannya Dasipena DKI Jakarta ini, kini telah terbentuk 7 Dasipena yaitu: Sulsel, Jateng, Jatim, Bali, Jabar, Kalsel dan DKI Jakarta.

Menkes dalam sambutannya menyatakan, pembentukan Dasipena merupakan kebutuhan yang mendesak mengingat Indonesia rawan bencana baik bencana alam, bencana karena ulah manusia maupun kedaruratan kompleks.
Kesempatan terbaik untuk menyelamatkan jiwa korban bencana adalah pada saat-saat pertama setelah bencana terjadi. Melalui Dasipena inilah komponen pemuda yang terdiri dari mahasiswa, pemuda pesantren, saka bakti husada, pecinta alam, pemuda partai serta organisasi kepemudaan lainnya ditingkatkan kapasitasnya dengan pelatihan pertolongan pertama pada korban cidera serta dasar-dasar penanggulangan bencana.

Dengan terbentuknya Dasipena, keberadaan mereka sangat tepat dan strategis sehingga menjadi faktor kunci dalam penyelamatan jiwa dan mengurangi penderitaan para korban bencana. Diharapkan Dasipena menjadi salah satu bagian tim kesehatan pertama yang akan dimobilisasi selama masa tangap darurat. Dasipena akan mendukung pelayanan kesehatan setempat dalam penanganan korban secara cepat dan memadai, ujar Menkes.

Menkes mengharapkan gubernur, bupati/walikota, kepala dinas kesehatan beserta aparat kesehatan lainnya, terutama daerah yang rawan bencana untuk selalu waspada dan mensiagakan tim reaksi cepat kesehatan yang tanggap sehingga dapat membantu masyarakat secara cepat dan tepat. Hal ini semakin dimudahkan dengan terbentuknya Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Regional sejak Desember 2006 di 9 provinsi. Pembentukan PPK Regional DKI Jakarta bertujuan untuk mendukung penanggulangan krisis di wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Kalimantan Barat, tambah Menkes.

Berdasarkan data Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Depkes, sepanjang tahun 2006 sampai dengan bulan Juni 2009 terjadi peningkatan frekuensi kejadian bencana. Pada tahun 2006 terjadi 162 kali kejadian bencana, tahun 2008, 456 kali kejadian bencana; dan tahun 2009 sampai dengan Juni tercatat 204 kali kejadian. Sedangkan jumlah korban akibat bencana tahun 2006 tercatat korban meninggal 7.618 orang, tahun 2007; 766 orang, tahun 2008; 337 orang dan tahun 2009 sampai bulan Juni sebanyak 233 orang.

Korban meninggal akibat bencana dari tahun ke tahun dapat diminimalisir, hal ini dimungkinkan karena upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah beserta segenap jajaran kesehatan dan peran serta masyarakat sudah semakin baik, ujar dr. Siti Fadilah.

Menurut Menkes, Depkes selalu memantau setiap kejadian bencana yang berdampak pada masalah kesehatan dan memberikan dukungan sepenuhnya untuk merespons dengan cepat, tepat dan efisien.

Dalam hal penanggulangan bencana, pemerintah Indonesia telah menjadikan upaya kesiapsiagaan bencana sebagai prioritas nasional yang diwujudkan dalam Rencana Aksi Nasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (disaster risk reduction). Di tingkat global metode penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, melalui WHO disepakati menjadi acuan internasional, ujar Menkes.

Ditambahkan, upaya kesiapsiagaan yang telah dilakukan diantaranya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui berbagai pelatihan bertaraf nasional dan internasional dan bersifat manajemen maupun teknis medis.

Pelatihan nasional berupa pelatihan manajemen bencana, rencana kontijensi, emergency nursing, advanced trauma life support (ATLS), advanced cardiac life support (ACLS), manajemen obat dan persediaan farmasi, radio komunikasi, RS lapangan, evakuasi korban bencana di perairan dan operasionalisasi perahu karet serta pelatihan RHA (rapid health assessment). Sedangkan pelatihan internasional yang telah dilakukan yaitu international training consortium on disaster risk reduction (konsorsium internasional pelatihan pengurangan risiko bencana) di Makassar, Yogyakarta dan Surabaya. Total petugas yang telah dilatih selama kurun waktu tahun 2006 – 2008 sebanyak 4.513 orang. Tahun 2009 ini, masih terus dilakukan pelatihan-pelatihan bagi petugas, bahkan pelatihan bencana bagi para wartawan, tambah Menkes.

Dasipena ke-1 diresmikan di Makassar, Sulawesi Selatan tanggal 5 Mei 2008 dengan melatih 1.600 orang, Dasipena ke-2 di Semarang, Jawa Tengah tanggal 31 Juli 2008 dengan melatih 4.500 orang, Dasipena ke-3 di Surabaya, Jawa Timur tanggal 19 Agustus 2008 dengan melatih 5.000 orang, Dasipena ke-4 di Denpasar, Bali tanggal 14 Oktober 2008 dengan melatih 1500 orang, Dasipena ke-5 di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 20 Desember 2008 dengan melatih 2.000 orang dan Dasipena ke-6 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan tanggal 31 Desember 2008 dengan melatih 2.000 orang.

Saat ini tercatat 4 wilayah lagi yang sudah siap dikukuhkan yaitu Manado, Sulawesi Utara, Palembang, Sumatera Selatan, Medan, Sumatera Utara dan Banda Aceh, NAD. Total petugas Dasipena mencapai 28.300 orang.

Selain itu, bangsa ini juga sedang menghadapi pandemi influenza A H1N1. Kasus positif influenza A H1N1 secara kumulatif sampai tanggal 2 Agustus 2009 sebanyak 561 kasus, dengan rincian laki-laki 308 orang, perempuan 253 orang dan meninggal 1 orang. Kasus influenza A H1N1 ini ditemukan di 18 provinsi yaitu: DKI Jakarta, Bali, Banten, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah dan Lampung, tambah Menkes.

15 Juli 2009

Depkes Tangani Korban Longsor Bogor

Posted from : depkes.go.id
Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor pada tanggal 10 Juli telah terjadi tanah longsor pukul 05.00 WIB di Desa Palasari Kampung Cijeruk RT.01 RW.04 Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Akibat kejadian tersebut mengakibatkan : korban meninggal sebanyak 5 (lima) orang, korban luka berat 2 (dua) orang dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor dan luka ringan sebanyak 9 (sembilan) orang, dan tidak terjadi pengungsian.

Upaya yang dilakukan antara lain : evakuasi korban, memberikan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit PMI Bogor daN Puskesmas Cijeruk, dan pemantauan di lokasi bencana.

Saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.

01 Juli 2009

Banjir di Kab.Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

Dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongodow dan PPK Regional Sulawesi diperoleh informasi bahwa pada tanggal 30 Juni 2009 pukul 03.30 WITA telah terjadi banjir di Desa Pinonlantungan, Kec. Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Jumlah penduduk yang beresiko sebanyak 573 orang. Saat ini banjir telah surut.

Kejadian tersebut mengakibatkan, korban meninggal dunia 1 (satu) orang, tidak ada korban luka-luka, hilang maupun pengungsi, dan tidak ada sarana kesehatan yang rusak.

Upaya yang telah dilakukan antara lain: evakuasi korban, memberikan pelayanan kesehatan, dan melakukan pemantauan di lokasi bencana.

Saat ini permasalaham kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow, PPK Regional Sulawesi Utara dan Pusat Penaggulangan Krisis Depkes.

29 Mei 2009

Waspada Bencana, Depkes Gelar Pelatihan Evakuasi Korban Banjir


Sedia payung sebelum hujan. Seperti itulah tampaknya ynag ingin diperbuat oleh Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Departemen Kesehatan RI. Meski bulan ini bisa dikatakan awal dari musim kemarau dan jauh dari musim hujan, namun PPK Depkes pada tanggal 28-31 Mei 2009, melaksanakan kegiatan Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam Penggunaan Sarana Evakuasi Korban Bencana di Perairan. Pelatihan digelar di Sanur Bali.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Penanggulangan Krisis, Rustam Pakaya.. Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) Meningkatkan kemampuan petugas dalam memberikan bantuan hidup dasar dan pertolongan bagi korban bencana, khususnya kerban bencana di perairan, (2) Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam menyiapkan dan menggunakan perahu karet dengan dayung maupun dengan mesin tempel, pada saat bencana banjir, (3) Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam perawatan peralatan perahu karet dan perlengkapannya sehingga dapat menunjang kesiapsiagaan penanggulangan bencana banjir, (4) Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam mengevakuasi korban bencana di perairan.
Materi-materi yang disajikan dalam pelatihan ini, antara lain:
1. Filosofi SAR
2. Overview Penanggulangan Bencana
3. Bantuan Hidup Dasar (Teori dan Praktek)
4. Pengenalan Perahu Karet, Perakitan dan Pembongkaran
5. Teknik Mengangkat dan Membawa Perahu Karet
6. Teknik Mendayung
7. Pengenalan Motor Tempel
8. Teknik Mengangkat, Membawa dan Memasang Motor Tempel
9. Teknik Penyimpanan dan Perawatan Motor Tempel
10. Teknik Evakuasi Korban Bencana di Perairan
11. Teknik Ring Boy
12. Teknik mendayung di air.
13. Teknik mengemudikan perahu karet dengan menggunakan motor temple
14. Teknik Mencuci dan Melipat Perahu Karet
Metode pengajaran yang digunakan selama kegiatan menggunakan metode ceramah (kelas), demonstrasi, drilling (praktik lapangan). Pendekatan pembelajaran dengan metode "adult training". Interaksi belajar mengajar berjalan dua arah (two way communication) yang memungkinkan peserta didik dan instruktur bisa saling tukar informasi satu dengan lainnya.
Peserta serta narasumber kegiatan Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam Penggunaan Sarana Evakuasi Korban Bencana di Perairan tahun ini sebanyak 56 orang, yang terdiri atas:
1. Dinas Kesehatan Provinsi sebanyak 3 orang
2. Rumah Sakit sebanyak 2 orang
3. Badan SAR Nasional sebanyak 3 orang
4. Badan SAR Provinsi sebanyak 5 orang
5. PMI Provinsi sebanyak 1 orang
6. KKP sebanyak 1 orang
7. Unit Utama Depkes sebanyak 11 orang
8. Perwakilan WHO sebanyak 1 orang
9. PPK Depkes sebanyak 29 orang
(sumber : www.ppk-depkes.org)

16 Mei 2009

Angin Puting Beliung dan Tanah Longsor di Lampung Barat

Pada tanggal 9 Mei 2009 telah terjadi angin puting beliung di Kec.Kota Agung, Kab. Tanggamus, Provinsi Lampung.Pada kejadian ini 350 rumah mengalami kerusakan. Dan pada tanggal 10 Mei 2009 juga telah terjadi tanah longsor di Desa Tembakak, Kecamatan Karya Penggawa Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung.

Data korban yang di dapat hanya pada kejadian angin puting beliung, sedangkan akibat kejadian tanah longsor tidak di jumpai korban. Adapun rincian korban adalah sebagai berikut : korban meninggal dunia sebanyak 1 orang (Kab. Tanggamus), korban luka ringan/rawat jalan sebanyak 14 orang (Kab.Tanggamus), dan tidak ada kerusakan fasilitas kesehatan.

Upaya yang dilakukan antara lain : evakuasi korban, memberikan pelayanan kesehatan di lokasi kejadian dan puskesmas, menyiagakan Rumah Sakit Kota Agung Kab. Tanggamus, dan melakukan pemantauan di lokasi bencana.

Saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.