Tampilkan postingan dengan label H1N1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label H1N1. Tampilkan semua postingan

16 November 2009

Indonesia Produksi Vaksin Flu Babi November 2010

Senin, 16 November 2009 19:54 WIB
Surabaya  (ANTARA News) - Indonesia akan mulai memproduksi vaksin Flu Babi (H1N1) secara massal pada November 2010, namun clinical trial (uji coba klinis) akan dilakukan pada Maret 2010.

"Vaksin H1N1 baru atau A-H1N1 (virus Flu Babi yang menular dari hewan ke manusia) akan diproduksi secara massal oleh PT Bio Farma pada November 2010," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Setyaningsih di Surabaya, Senin.

31 Oktober 2009

Vaksinasi Influenza Berfungsi Ganda

Pemberian vaksinasi influenza, termasuk influenza A-H1N1, bagi wanita yang tengah hamil ternyata tidak hanya melindungi si ibu, tetapi juga bisa membuat janinnya tumbuh lebih besar, sehat, dan kecil kemungkinan lahir prematur.

Hasil penelitian Masyarakat Penyakit Menular AS di Philadelphia, yang dipaparkan Kamis (29/10), menunjukkan bahwa bayi sebelum dan setelah kelahiran akan terlindungi dari ancaman virus influenza.

”Dengan satu suntikan, dua individu terlindungi. Barangkali kalau si ibu tidak mau melakukannya untuk dirinya sendiri, mereka bisa melakukannya untuk bayi mereka,” kata Dr Marietta Vazquez dari Yale University.

Khusus untuk mengantisipasi pandemi influenza A-H1N1, ibu hamil menjadi prioritas utama pemberian vaksinasi. Dari 1.000 warga AS yang meninggal karena influenza A-H1NI, sebanyak 6 persen di antaranya adalah ibu hamil.

Temuan tim peneliti itu disimpulkan setelah mempelajari 350 ibu hamil (157 orang menderita influenza dan 195 tidak) sejak tahun 2000. Dr Saad Omer dari Emory University, AS, meneliti 6.410 bayi yang lahir prematur selama kurun waktu Juni 2004 hingga September 2006.

Ketika influenza menyebar, risiko ibu hamil yang mendapat vaksinasi terkena influenza sangat rendah atau 80 persen lebih rendah daripada ibu hamil yang tidak divaksinasi dan melahirkan bayi prematur. ”Infeksi flu barangkali mengurangi jumlah nutrisi yang diperoleh janin melalui plasenta,” ujar tim peneliti.



Sumber: www.kompas.com


26 Oktober 2009

Tamiflu Tak Cocok untuk Orang Dewasa Sehat

Obat flu Tamiflu dan Relenza mungkin tak cocok untuk mengobati influenza musiman pada orang dewasa yang sehat, kata beberapa peneliti Inggris, Jumat.

"Merekomendasikan penggunaan obat anti-virus bagi perawatan orang yang memiliki beberapa gejala tampaknya bukan tindakan yang paling tepat," tulis Jane Burch dari University of York, dan rekannya.

Studi mereka, yang disiarkan dalam "Lancet Infectious Diseases", mendukung saran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan pasien sehat yang terserang flu A-H1N1 tanpa komplikasi tak memerlukan pengobatan anti-virus.

Tamiflu, yang dibuat oleh perusahaan Swiss, Roche, berdasarkan lisensi dari Gilead Sciences Inc., adalah pil yang dapat mengobati dan mencegah segala jenis virus influenza A.

Zanamivir, yang dibuat oleh GlaxoSmithKline, berdasarkan lisensi dari perusahaan Australia, Biota, dan dijual dengan merek Relenza, adalah obat hirup di klas yang sama.

WHO sangat menyarankan penggunaan kedua obat itu buat perempuan hamil, pasien dengan kondisi medis yang benar-benar kurang baik dan anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun, karena mereka berisiko tinggi terhadap penyakit yang lebih parah.

Tim Burch mengkaji beragam studi yang diterbitkan mengenai Tamiflu dan Relenza. "Kami menyajikan hasilnya buat orang dewasa yang sehat dan orang yang menghadapi risiko komplikasi yang berkaitan dengan influenza," tulis mereka.

Mereka mendapati kedua obat tersebut, rata-rata, memangkas setengah hari durasi pasien saat sakit. Influenza biasanya mempengaruhi orang selama sekitar satu pekan.

Obat itu memberi hasil sedikit lebih baik pada orang yang memiliki resiko komplikasi, seperti pasien yang menderita diabetes atau asme, sementara Relenza mengurangi rasa sakit hampir satu hari dan Tamiflu sebanyak tiga-perempat per hari.

Itu menunjukkan obat tersebut mesti diberikan kepada orang yang paling memerlukannya, kata para peneliti tersebut.

Banyak negara telah menimbun kedua obat itu. Flu A-H1N1 telah dinyatakan sebagai wabah dan menyebar ke seluruh dunia. Para pejabat kesehatan AS, Jumat, mengatakan penyakit tersebut masih bertambah parah di Jepang, kondisi membaik di Inggris dan masih aktif di Amerika Serikat. Flu jarang menyerang di semua ketiga negara itu pada Agustus.

Pabrik global menduga tak dapat menyediakan vaksin tersebut sampai akhir September atau Oktober.



Sumber: www.kompas.com


25 Oktober 2009

Cara Virus Influenza Menaklukkan Tamiflu

Agar bisa menculik Dewi Sinta, Mahapatih Marica bersiluman menjadi kijang emas, sementara Prabu Rahwana berubah menjadi pendeta tua. Usaha itu mereka lakukan untuk mengelabui dan mengecoh sistem penjagaan terhadap Dewi Sinta. Rahwana akhirnya berhasil mencuri Dewi Sinta. Demikian dikisahkan dalam cerita Ramayana.

Virus, yang merupakan parasit bagi makhluk hidup, juga senantiasa ”bersiluman” dengan cara bermutasi guna mengelabui sistem pertahanan sel inang. Cara ini memudahkan virus untuk memasuki sel dan membuat virus bisa luput dari serangan sel inang. Virus kemudian bisa berbiak di dalam sel inang dan bisa mengakibatkan kematian bagi organisme yang diinfeksi. Bukan hanya itu, dengan bermutasi, virus juga bisa menjadi kebal terhadap obat yang digunakan manusia untuk menumpas virus.

Salah satu virus yang berbahaya bagi manusia adalah virus influenza. Pada kurun lima tahun terakhir masyarakat dunia dihebohkan oleh penyebaran salah satu subtipe influenza A, yaitu H5N1 yang disebut flu burung. Virus ini dilaporkan telah membunuh 262 orang di seluruh dunia. Di Indonesia saja korbannya mencapai 115 orang.

Belum selesai menghadapi H5N1, kini masyarakat dunia dikejutkan oleh merebaknya infeksi dan penularan virus influenza A subtipe H1N1. Dalam waktu yang relatif singkat, virus ini telah membunuh lebih dari 400 orang di seluruh dunia. Dunia pun dinyatakan dalam keadaan pandemi influenza.

Di tengah kecemasan menghadapi pandemi, dilaporkan bahwa mulai ada virus influenza, baik H5N1 maupun H1N1, yang kebal terhadap Tamiflu. Padahal, Tamiflu dijadikan obat antivirus andalan untuk menangkal penyebaran H5N1 ataupun H1N1.

Hambat ”neuraminidase”

Oseltamivir, obat antivirus influenza yang dikenal dengan sebutan Tamiflu, bekerja dengan cara menghambat neuraminidase, yaitu protein enzim yang berada pada permukaan virus. Dalam menghambat neuraminidase, oseltamivir menempel pada sisi aktif enzim tersebut sehingga enzim neuraminidase menjadi tidak aktif. Neuraminidase berperan dalam melepaskan virus yang baru terbentuk sehingga virus baru ini bisa menyebar dan menginfeksi sel yang lain.

Virus yang baru terbentuk sebagai hasil perkembangbiakan di dalam sel awalnya masih menempel pada permukaan sel melalui residu asam sialat. Untuk melepaskan virus dari membran sel inang, neuraminidase memotong residu asam sialat tersebut. Jika aktivitas neuraminidase dihambat oleh oseltamivir, virus yang baru terbentuk tidak bisa lepas untuk menyebar sehingga perkembangbiakan virus bisa dihentikan.

Kondisi ini akan membantu sistem pertahanan tubuh untuk memenangi pertarungan melawan virus influenza yang tengah menyerang sehingga orang yang terinfeksi bisa sembuh.

Namun, jika oseltamivir gagal menghambat aktivitas neuraminidase, virus akan tetap berkembang biak dan bisa menyebar dari sel yang satu ke sel yang lain, walaupun penderita diberikan obat Tamiflu. Keadaan ini sangat berbahaya dan dapat mengancam nyawa penderita. Sebagai contoh, kasus kematian penderita akibat terinfeksi H5N1 yang kebal terhadap Tamiflu antara lain dilaporkan terjadi di Vietnam serta akibat infeksi H1N1 yang kebal Tamiflu dilaporkan terjadi di Belanda.

Mutasi gen ”neuraminidase”

Virus influenza bisa berubah menjadi kebal terhadap Tamiflu karena terjadi mutasi pada gen neuraminidase, yaitu gen penyandi protein neuraminidase. Mutasi adalah perubahan basa nukleotida pada molekul DNA atau gen, misalnya, perubahan basa sitosin (C) menjadi basa timin (T). Perubahan basa ini dapat mengakibatkan perubahan sandi genetik yang selanjutnya bisa mengubah residu asam amino dari protein yang disandi.

Gen neuraminidase berukuran 1.362 pasang basa dan menyandi protein neuraminidase, yang terdiri dari 454 residu asam amino. Mutasi C menjadi T pada basa nukleotida yang ke-763 mengubah residu asam amino yang ke-454 pada protein neuraminidase dari histidin menjadi tirosin.

Perubahan ini mengakibatkan tempat penempelan oseltamivir pada protein neuraminidase berubah sehingga oseltamivir tidak lagi bisa terikat pada neuraminidase (lihat Gambar). Akibatnya, aktivitas neuraminidase tidak bisa dihambat dan replikasi virus tidak bisa dihentikan oleh Tamiflu. Mutasi lain yang juga dilaporkan menimbulkan resistensi terhadap Tamiflu adalah mutasi yang mengubah residu asam amino ke-292 dari arginin menjadi lisin dan yang mengubah residu ke-294 dari asparagin menjadi serin.

Untuk mengantisipasi munculnya mutasi yang berbahaya pada virus influenza, sekuen atau urutan basa nukleotida DNA virus yang sedang berjangkit perlu dianalisis secara rutin. Perubahan gen neuraminidase perlu dipantau guna mengantisipasi berjangkitnya virus yang resisten terhadap Tamiflu. Selain itu, obat antivirus influenza alternatif juga perlu dikembangkan. Pengobatan menggunakan beberapa senyawa dengan cara kerja yang berbeda juga perlu dipertimbangkan.



Sumber: www.kompas.com

18 Oktober 2009

Waspada! Virus Baru Flu Babi Menjadi Mesin Pembunuh Lebih Cepat

WASHINGTON - Virus baru flu babi bisa membunuh lebih cepat. Virus H1N1 yang baru ini sama sekali berbeda dengan flu musiman, yang mengincar nyawa orang-orang berusia muda daripada flu biasanya.

flu babiDalam paparan Badan Kesehatan Dunia WHO disampaikan dalam penelitian selama tujuh bulan sirkulasi virus biasanya ringan, tapi dapat menyebabkan beberapa gejala yang tidak biasa dan lebih mematikan. “Partisipan dalam pertemuan itu sepakat bahwa beberapa kasus jelas berbeda dengan patorn penyakit flu yang selama ini telah menjadi epidemik,” ujar Dr Nikki Shindo dari WHO.

Flu Babi yang diumumkan menjadi pendemik pada Juni lalu telah menyebar ke seluruh dunia. Dr Anne Schuchat dari Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mengatakan, sudah ada 86 anak-anak Amerika tewas karena flu babi, kebanyakan dari mereka usia 5-17 tahun.

Di antara para dokter yang ikut dalam pertemuan WHO, Dr Anand Kumar dari Rumah Sakit Boniface di Winnipeg, Manitoba, mengatakan bahwa 50 persen ruang gawat darurat di seluruh kota selalu terisi pasien yang terkena flu babi. “Pada dasarnya kami kelebihan kapasitas,” ujar dokter yang menulis efek Flu Babi di Jurnal Asosiasi kesehatan Amerika.


Sumber: tempointeraktif.com

03 September 2009

Tambahan 14 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1, 2 orang meninggal

Badan Litbangkes Depkes tanggal 2 September 2009 melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 14 kasus baru, 2 orang diantaranya meninggal dunia, seorang anak dari DKI Jakarta dan 1 orang perempuan dari Yogyakarta, keduanya mempunyai faktor risiko yang mendasari dan juga pneumonia, hasil laboratorium juga menunjukkan H1N1(+). Dengan demikian secara kumulatif, total kasus sampai saat ini 1.097 orang di 25 provinsi dan 10 kematian, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Ditambahkan, “data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita menunjukkan Thailand memiliki 14.976 kasus dengan 119 kematian, Singapura 16 kematian, Malaysia 64 kematian dan Australia ada 35.095 kasus dengan 155 kematian", ujar Prof. Tjandra

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes

Tambahan 28 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1

Tanggal 1 September 2009, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 28 orang. Dengan tambahan ini jumlah kasus keseluruhan menjadi 1.083 kasus tersebar di 25 provinsi. Tambahan 1 provinsi baru adalah provinsi Papua, kata Prof. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P., MARS, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes.

Ditambahkan, data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita yaitu Thailand memiliki 13.019 kasus dengan 114 kematian, Singapura 12 kematian, Malaysia 68 kematian dan Australia ada 33.511 kasus dengan 132 kematian.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes

26 Agustus 2009

Pandemic (H1N1) 2009 - update 62 (revised 21 August 2009)

Laboratory-confirmed cases of pandemic (H1N1) 2009 as officially reported to WHO by States Parties to the IHR (2005) as of 13 August 2009

The countries and overseas territories/communities that have newly reported their first pandemic (H1N1) 2009 confirmed case(s) since the last web update (No. 61) as of 13 August 2009 are:

Ghana, Zambia, and Tuvalu
Map of affected countries and deaths as of 13 August 2009 [png 313kb]
 

Region
Cumulative total
as of 13 Aug 2009
 
Cases*
Deaths
WHO Regional Office for Africa (AFRO)
1469
3
WHO Regional Office for the Americas (AMRO)
105882
1579
WHO Regional Office for the Eastern Mediterranean (EMRO)
2532
8
WHO Regional Office for Europe (EURO)
Over 32000
53
WHO Regional Office for South-East Asia (SEARO)
13172
106
WHO Regional Office for the Western Pacific (WPRO)
27111
50
 
 
 
Total
Over 182166
1799

*Given that countries are no longer required to test and report individual cases, the number of cases reported actually understates the real number of cases.

(source: WHO)

25 Agustus 2009

Cegah Flu Babi, Ayo Makan Tempe !!!

LONDON - Muncul pertama kali di Meksiko, swine flu atau yang lebih kita kenal sebagai flu babi telah menyebar ke seluruh dunia. Bahkan Indonesia pun sudah bukan tempat yang aman lagi dari penyebaran virus H1N1 itu.
Di Jawa Timur sudah ada beberapa kasus. Yang terbaru adalah dua keluarga, masing-masing dari Malang dan Surabaya, terindikasi flu babi. Kini mereka harus menjalani karantina di RSUD Syaiful Anwar Malang dan RS Dr Soetomo Surabaya.
Menurut ketua tim penanggulangan flu pandemic dari Badan Perlindungan Kesehatan Inggris, Dr Nick Phin, pada dasarnya yang penting adalah kekebalan tubuh. Dan kekebalan itu bisa didapatkan dari makan makanan sehat sehingga tubuh memiliki kesempatan terbaik untuk melawan virus.
“Orang yang kurang gizi lebih rentan terhadap infeksi. Dan bagi sebagaian besar orang, pola makan yang sehat dan seimbang merupakan faktor penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh,” jelas Dokter Phin.
Tentu saja kita tetap harus mengikuti anjuran pencegahan termasuk dengan menutup mulut dengan tisu ketika bersin. Kemudian cepat-cepat memasukkannya ke dalam tong sampah. Mencuci tangan sesering mungkin sangat dianjurkan untuk mencegah tertular virus H1N1.
Namun, jika virus itu sudah menyerang, makanan yang kita konsumsi itulah yang berfungsi mengoptimalkan kekuatan selaput dalam telinga, hidung, dan tenggorok untuk membentuk benteng di dalam tubuh melawan organisme dari luar
Makanan berprotein tinggi seperti kacang polong dan makanan berbahan kedelai seperti tempe, tahu, atau susu kedelai.
Jenis-jenis makanan itu menyuplai gizi yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan sel epithelial dalam selaput pada telinga, hidung, dan tenggorokan. Tiga porsi salah satu bahan makanan tersebut dalam sehari bisa menambah kekuatan jaringan benteng dalam tubuh.
Lengkapi juga menu sehari-hari dengan buah dan sayur berwarna jingga atau hijau gelap. Contohnya wortel, lebu, apricot, mangga, bayam, dan kubis. Sayur dan buah itu memiliki kandungan vitamin A yang tinggi dan itulah nutrisi yang diperlukan tubuh untuk menguatkan selaput pernapasan.
Jika virus benar-benar memasuki tubuh, giliran sel darah putih yang harus melawan. Saat itulah vitamin C berperan penting untuk memobilisasi kekuatan melawan virus.
Karena kita tidak bisa menyimpan vitamin C dalam tubuh, makanan sumber vitamin C harus menjadi bagian dalam menu keseharian. Ini bisa diperoleh dari paprika, bayam, hingga keluarga jeruk, beri, atau kacang beku. Buah kalengan, jus jeruk atau grapefruit dalam kemasan pun bisa membantu.
Pasukan lain untuk melawan virus adalah sel T. Mineral yang disebut zinc sangat penting untuk pembentukan antibodi ini. Jika kita mengalami kekurangan antibodi ini, batuk dan pilek biasa mudah sekali menyerang. Bagusnya, persediaan antibodi bisa dinormalkan dengan mencukupi kebutuhan zinc dalam makanan sehari-hari.
Mineral ini bisa didapatkan dari biji-bijian utuh serta isi labu pun bagus. Tetapi zinc dari kelompok pertama lebih mudah dicerna.
Zat besi juga sangat esensial untuk kekebalan tubuh. Kekurangan zat besi menyebabkan rapuhnya sistem imunitas sehingga kita lebih rentan terhadap virus flu babi.
Makanan sumber zat besi hampir sama dengan makanan sumber zinc. Tetapi kita perlu menambahnya dengan suplemen berupa multivitamin dan mineral yang mengandung 100 persen jumlah yang direkomendasikan, yakni 14,8 miligram per hari.
Satu lagi nutrisi super untuk memelihara sistem imunitas. Yaitu yang disebut allicin. Nutrisi ini mudah didapat. Dengan cara mengonsumsi bawang putih mentah. Allicin membantu menghadang kemampuan virus menembus jaringan yang rusak. Sehari satu suing bawang putih mentah bisa menjauhkan kita dari sakit.
Penelitian yang dilakukan Universitas North Carolina, AS, menyebut bahwa perlindungan umum untuk melawan virus influenza bisa diberikan mineral selenium. Ini bisa didapat dari kacang Brasil. Cukup tiga butir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Mailist Jambo_Dokter_Hewan_Unsyiah.

24 Agustus 2009

4 Bulan, Pasien H1N1 Tembus Angka 1.000

Posted from : depkes.go.id

Hanya dalam jangka waktu tak lebih dari empat bulan, pasien positif H1N1 tembus ke angka 1.000 orang. Badan Litbangkes Depkes tanggal 23 Agustus 2009 melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 57 orang, 1 orang diantaranya meninggal dunia. Ia adalah seorang pria 21 tahun dari Jawa Barat meninggal dengan gangguan pernapasan berat dan hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 1.005 orang tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.


Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.
Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

22 Agustus 2009

Nigeria Berhasil Cegah Flu Babi

Lagos (ANTARA News/XINHUA) - Nageria berhasil mencegah penyebaran flu babi atau virus H1N1 di antara 81 negara yang mengalami penyebaran virus mematikan itu, kata Bank Dunia.

Direktur Bank Dunia di Nigeria, Onno Ruhl, mengatakan dalam satu pernyataan yang disiarkan di Abuja, Jumat, bahwa negara itu merupakan satu-satunya negara yang berhasil mencegah kematian akibat virus H1N1.

Menurut dia, negara tersebut telah 13 bulan terbebas dari penyebaran flu babi. Ia menyebutkan, kasus flu babi terkahir di negara itu tercatat pada 2008 di negara bagian Kano dan Katsnia, Nigeria utara, yang secara efektif telah dicegah penyebarannya.

Upaya pencegahan flu babi itu dilakukan dengan pengadaan proyek triparti, yaitu "Nigeria`s Avian Influenza Control, Human Pandemic Preparedness and Response Project" yang dijalankan secara bersama oleh Kementerian-kementerian Pertanian, Sumber Mineral, Kesehatan, dan Kementerian Informasi dan Komunikasi.

"Di negara itu telah bebas dari flu babi sejak Juli 2008," kata dia dan menambahkan, beberapa negara di Afrika dan Asia Tenggara tertarik untuk belajar dari keberhasilan Nigeria tersebut.(*)

21 Agustus 2009

Kasus Positif Influenza A H1N1 berjumlah 930 orang yg tersebar di 24 provinsi

Badan Litbangkes Depkes tanggal 18 Agustus 2009, melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 22 orang. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 930 orang, tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.
Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah. Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tetap sehat yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Diantaranya, mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.
Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).
Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Penderita H1N1 di Indonesia Dekati Angka 1.000 Orang

Posted from : depkes.go.id

Penderita H1No1 di Indonesia terus bertambah, bahkan mulai mendekati angka 1.000 orang. Terakhir, Pada tanggal 20 Agustus 2009, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 18 orang. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 948 orang tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

15 Agustus 2009

Langkah-langkah menghadapi perkembangan H1N1

Pemerintah melalui Departemen Kesehatan Republik Indonesia, telah memberikan surat edaran kepada seluruh Kepala Daerah/Gubernur. Surat yang berisikan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan menghadapi Pandemi Influenza A BAru (H1N1) fase 6.

Kasus ini telah berkembang sedemikian pesat, dengan data terakhir per tanggal 6 Juli 2009 virus ini telah menjangkiti di 122 negara dengan kasus pasien meninggal sebanyak 144 dari total jumlah penderita 95.512 orang. Sungguh angka statistik yang fantastis. Penyebarannya sedemikian cepat dan masif (case fatality 0,45%).

Di tanah air, dilaporkan 10 provinsi yakni :
  1. Bali
  2. DKI Jakarta
  3. Banten
  4. Jawa Barat
  5. D.I. Yogyakarta
  6. Jawa Timur
  7. Sumatera Utara
  8. Kalimantan Timur
  9. Jawa Tengah
  10. Sulawesi Utara
dengan total jumlah penderita 172 orang, dan sampai saat ini berkat kesigapan aparat kesehatan kita belum ada kasus pasien meninggal. Dari kasus ini, sebanyak 37% pasien memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri. Sedangkan 19% kasus akibat berpergian ke luar negeri, dan 44% masih belum diketahui pasti faktor penyebab penularannya. Dilihat dari penyebaran virus ini, yang caranya tidak berbeda jauh dengan penyakit flu biasa kemungkinan besar jumlah pasien dan jumlah sebarannya akan terus bertambah.

Untuk mengantisipasi penyebarannya, Departemen Kesehatan menginstruksikan kepada seluruh kepala daerah agar tetap melakukanj pemindaian suhu (thermal scanning) dan kartu riwayat kesehatan (health alert kesehatan). Untuk lebih jelasnya kita dapat membaca surat edaran Menteri Kesehatan itu (download disini)

12 Agustus 2009

Makan Tempe Membantu Mencegah Flu Babi

LONDON - Muncul pertama kali di Meksiko, swine flu atau yang lebih kita kenal sebagai flu babi telah menyebar ke seluruh dunia. Bahkan Indonesia pun sudah bukan tempat yang aman lagi dari penyebaran virus H1N1 itu.

Di Jawa Timur sudah ada beberapa kasus. Yang terbaru adalah dua keluarga, masing-masing dari Malang dan Surabaya, terindikasi flu babi. Kini mereka harus menjalani karantina di RSUD Syaiful Anwar Malang dan RS Dr Soetomo Surabaya.


Menurut ketua tim penanggulangan flu pandemic dari Badan Perlindungan Kesehatan Inggris, Dr Nick Phin, pada dasarnya yang penting adalah kekebalan tubuh. Dan kekebalan itu bisa didapatkan dari makan makanan sehat sehingga tubuh memiliki kesempatan terbaik untuk melawan virus.

“Orang yang kurang gizi lebih rentan terhadap infeksi. Dan bagi sebagaian besar orang, pola makan yang sehat dan seimbang merupakan faktor penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh,” jelas Dokter Phin.

Tentu saja kita tetap harus mengikuti anjuran pencegahan termasuk dengan menutup mulut dengan tisu ketika bersin. Kemudian cepat-cepat memasukkannya ke dalam tong sampah. Mencuci tangan sesering mungkin sangat dianjurkan untuk mencegah tertular virus H1N1.

Namun, jika virus itu sudah menyerang, makanan yang kita konsumsi itulah yang berfungsi mengoptimalkan kekuatan selaput dalam telinga, hidung, dan tenggorok untuk membentuk benteng di dalam tubuh melawan organisme dari luar. Makanan berprotein tinggi seperti kacang polong dan makanan berbahan kedelai seperti tempe, tahu, atau susu kedelai.

Jenis-jenis makanan itu menyuplai gizi yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan sel epithelial dalam selaput pada telinga, hidung, dan tenggorokan. Tiga porsi salah satu bahan makanan tersebut dalam sehari bisa menambah kekuatan jaringan benteng dalam tubuh.

Lengkapi juga menu sehari-hari dengan buah dan sayur berwarna jingga atau hijau gelap. Contohnya wortel, lebu, apricot, mangga, bayam, dan kubis. Sayur dan buah itu memiliki kandungan vitamin A yang tinggi dan itulah nutrisi yang diperlukan tubuh untuk menguatkan selaput pernapasan. Jika virus benar-benar memasuki tubuh, giliran sel darah putih yang harus melawan. Saat itulah vitamin C berperan penting untuk memobilisasi kekuatan melawan virus.

Karena kita tidak bisa menyimpan vitamin C dalam tubuh, makanan sumber vitamin C harus menjadi bagian dalam menu keseharian. Ini bisa diperoleh dari paprika, bayam, hingga keluarga jeruk, beri, atau kacang beku. Buah kalengan, jus jeruk atau grapefruit dalam kemasan pun bisa membantu. Pasukan lain untuk melawan virus adalah sel T. Mineral yang disebut zinc sangat penting untuk pembentukan antibodi ini. Jika kita mengalami kekurangan antibodi ini, batuk dan pilek biasa mudah sekali menyerang. Bagusnya, persediaan antibodi bisa dinormalkan dengan mencukupi kebutuhan zinc dalam makanan sehari-hari.

Mineral ini bisa didapatkan dari biji-bijian utuh serta isi labu pun bagus. Tetapi zinc dari kelompok pertama lebih mudah dicerna. Zat besi juga sangat esensial untuk kekebalan tubuh. Kekurangan zat besi menyebabkan rapuhnya sistem imunitas sehingga kita lebih rentan terhadap virus flu babi. Makanan sumber zat besi hampir sama dengan makanan sumber zinc. Tetapi kita perlu menambahnya dengan suplemen berupa multivitamin dan mineral yang mengandung 100 persen jumlah yang direkomendasikan, yakni 14,8 miligram per hari.

Satu lagi nutrisi super untuk memelihara sistem imunitas. Yaitu yang disebut allicin. Nutrisi ini mudah didapat. Dengan cara mengonsumsi bawang putih mentah. Allicin membantu menghadang kemampuan virus menembus jaringan yang rusak. Sehari satu suing bawang putih mentah bisa menjauhkan kita dari sakit.

Penelitian yang dilakukan Universitas North Carolina, AS, menyebut bahwa perlindungan umum untuk melawan virus influenza bisa diberikan mineral selenium. Ini bisa didapat dari kacang Brasil. Cukup tiga butir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Mailist Jambo_Dokter_Hewan_Unsyiah.

31 Juli 2009

Lima Santri Tebu Ireng Suspect Flu Babi Dirujuk ke Malang

KEDIRI | SURYA Online - Lima santri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur (Jatim),  yang diduga terinfeksi virus flu babi (A-H1N1) yang sebelumnya dirawat di RSUD Pelem Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim), kini dirujuk ke RS Saiful Anwar Malang.

“Kami sengaja merujuk kelima pasien ke Malang, agar mereka mendapatkan penanganan lebih baik,” kata Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) RSUD Pelem, A Razik, Jumat (31/7).

Razik mengatakan, dirujuknya kelima santri Ponpes Tebu Ireng tersebut atas dasar permintaan keluarga. Selain itu, fasilitas di Malang juga lebih baik ketimbang di Kediri.
Dengan dirujuk tersebut, pihaknya berharap kondisi kelima santri terebut menjadi lebih baik, mengingat kondisi tubuh mereka lemah saat dibawa ke Pare.

Menyinggung dengan hasil uji laboratorium, Razik mengaku pihaknya belum mendapatkannya. Namun, karena kelima santri tersebut sudah terlanjur dirujuk ke Malang, pihaknya menyerahkan pada rumah sakit rujukan. “Karena kelima pasien sudah dirujuk ke Malang, maka untuk hasil laboratorium kami serahkan pada rumah sakit rujukan,” kata Razik.

Sebelumnya, sebanyak lima santri dari Ponpes Tebu Ireng, Jombang dirujuk ke Kediri, setelah sempat dirawat di Poliklinik Ponpes As Salam karena diduga terinfeksi virus flu babi.
Selain di rumah sakit tersebut, dua pasien dari lokasi yang sama juga dirawat di RS HVA Toloengredjo, Kediri. Mereka juga sakit influenza dengan gejala mirip flu babi, seperti panas, tenggorokan sakit, dan disertai batuk.

Kedua pasien itu juga dirujuk ke Malang untuk mendapatkan fasilitas dan penanganan penyakit lebih baik. ant

Seputar INFLUENZA H1N1


TANYA JAWAB SEPUTAR INFLUENZA BARU H1N1

1. Apa yang disebut dengan influenza baru H1N1?
Influenza baru H1N1 merupakan influenza (flu) yang disebabkan oleh virus influenza tipe A
subtipe H1N1 baru strain Meksiko. Virus ini tidak ada kaitannya dengan virus influenza
musiman yang ada selama ini (seasonal influenza).

2. Apa perbedaan influenza baru H1N1 dengan flu biasa dan flu burung?
Influenza baru H1N1 cukup berbahaya, mudah menular dan dapat menimbulkan kematian
karena virus strain baru influenza H1N1 ini lebih berbahaya dibanding flu musiman seperti
virus flu A H1N1, H2N1, H3N1 dan H3N2 yang biasa terdapat pada sesorang yang
menderita flu musiman. Penyebaran flu baru H1N1 telah menyebar di 99 negara dengan
55.867 kasus yang dilaporkan dan 238 kematian, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO)
menaikkan status kewaspadaan pandemi influenza baru A H1N1 dari fase 5 ke fase 6 yang
merupakan fase tertinggi. Mekipun angka kematiannya (Case Fatality Rate/CFR) hanya
sekitar 0,5% namun flu baru H1N1 ini mudah menular. Sampai saat ini (24 Juni 2009) di
Indonesia sudah dilaporkan 2 kasus positif flu H1N1 dan keduanya merupakan kasus impor
yang artinya mereka tertular dari negara lain.
Sedangkan flu burung H5N1 juga sangat berbahaya karena mematikan. Angka
kematiannya lebih dari 80%. Namun saat ini di Indonesia penularan flu burung H5N1 masih
sebatas dari unggas ke manusia (fase 3). Sampai saat ini belum ada penularan flu burung
H5N1 antar manusia.

3. Bagaimana seseorang dapat tertular influenza baru H1N1?
Virus dapat menular dari manusia ke manusia semudah seperti flu musiman biasa yang
dapat ditularkan lewat paparan percikan ludah (droplet) seorang yang terinfeksi melalui
batuk atau bersin yang terhirup atau yang mencemari tangan atau permukaan benda.
Untuk mencegah terjadinya penularan, seorang yang menderita flu harus melakukan etika
batuk/bersin dengan menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, bila flu berat
sebaiknya tinggal di rumah sementara waktu, cuci tangan setelah beraktivitas, dan menjaga
jarak dengan orang yang sehat.

4. Apa gejala seseorang menderita flu baru H1N1?
Gejala flu baru H1N1 yang dapat sama dengan seperti flu biasa (influenza like-illnes),
seperti demam (> 38oC), batuk, pilek, letih, lesu, sakit tenggorokan mungkin disertai mual,
muntah dan diare, bila semakin berat akan mengakibatkan sesak napas atau napas sesak
yang menyebabkan terjadinya pneumonia yang mengakibatkan kematian.

5. Seberapa besar kita harus waspada terhadap penyebaran flu baru H1N1?
Kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini karena pada tanggal 11 Juni
2009, dunia telah dinyatakan Pandemi oleh WHO.
Sebelumnya kita mengenal flu musiman biasa menyerang berbagai lapisan masyarakat.
Banyak masyarakat yang memiliki kekebalan terhadap virus flu musiman tersebut sehingga
memungkinkan terbatasnya penyebaran infeksi. Namun kasus kematian akibat flu musiman
di negara dengan 4 musim masih cukup tinggi (5% -15%). Sedangkan virus influenza baru
A H1N1 merupakan virus strain baru (Meksiko) yang sebagian besar orang belum memiliki
kekebalan atau mempunyai kekebalan yang lemah kemudian bisa lebih parah dibandingkan
flu musiman. Tingkat keparahan penyakit ini mulai dari ringan sampai berat yang
mengakibatkan kematian. Sebagian besar orang yang terjangkit virus tersebut mengalami
sakit yang ringan dan dapat sembuh tanpa obat antiviral atau tanpa pelayanan medis. Pada
kasus yang lebih parah, lebih dari separuh dirawat di rumah sakit akibat minimnya
pelayanan medis, tidak tersedianya antiviral yang cukup dan sistem kekebalan yang lemah.

6. Bagimana cara untuk mencegah tertular flu baru H1N1?
  1. Biasakan cuci tangan memakai sabun dengan air bersih sesering mungkin. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan di sekitar Anda.
  2. Etika batuk/bersin yaitu bila bersin atau batuk, tutup hidung dan mulut dengan tisu dan tisu dibuang di tempat sampah. Jaga jarak atau kontak dengan orang lain terutama jika terlihat sakit flu. Jangan meludah di sembarang tempat.
  3. Bila mengalami gejala flu segera ke dokter, Puskesmas, Rumah Sakit atau klinik terdekat.

7. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa flu baru H1N1 telah
mencapai fase 6 dalam kewaspadaan pandemi, apa yang perlu Anda lakukan untuk
mencegah tertular flu baru H1N1?
  1. Hindari kontak dengan orang yang yang berasal atau baru bepergian dari negaraterjangkit (lihat informasi negara yang terjangkit flu ini yang dikeluarkan oleh WHO).
  2. Apabila sangat diperlukan harus bepergian ke negara terjangkit, lakukan tindakan pencegah yang diperlukan seperti cuci tangan sesering mungkin, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, hindari kontak dengan orang yang sedang flu, dan menggunakan masker yang telah direkomendasikan oleh Pejabat Berwenang Kesehatan setempat.
  3. Bila menderita flu, segeralah periksa ke klinik terdekat, dokter praktek, Puskesmas, atau Rumah Sakit. Sehingga semakin cepat diperiksa kesehatannya akan semakin cepat mendapatkan pelayanan kesehatan.
8. Apakah di Indonesia sudah ada yang terjangkit flu baru H1N1 (strain Meksiko)?
Sampai saat ini di Indonesia sudah dilaporkan adanya 2 (dua) penderita flu baru H1N1.
Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada hari Rabu, 24 Juni telah menyatakan
bahwa dua kasus positif Influenza A H1N1 tersebut merupakan kasus impor, artinya mereka
tertular dari negara lain. Mereka itu adalah WA (Pria, 37 tahun), warga negara Indonesia
(WNI), pekerjaan pilot. Sebelum sakit, WA pada tanggal 14 Juni 2009 terbang ke Perth,
Australia dan kemudian tanggal 18 Juni 2009 pergi ke Hongkong. Pada tanggal 19 Juni
2009 yang lalu, WA masuk RS Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dengan keluhan
demam. Kondisi kesehatan pasien membaik dan saat ini masih diisolasi di rumah sakit
tersebut.
Kasus kedua adalah BM (wanita, 22 tahun), warga negara Inggris, tinggal di Melbourne
Australia. Ia berkunjung ke Bali tanggal 19 Juni 2009. Tanggal 20 Juni 2009 BM merasa
panas dan batuk. Kemudian berobat ke rumah sakit dengan membawa Health Alert Card
yang didapat dari Bandara Ngurah Rai dan langsung dirujuk ke RSUP Sanglah Denpasar.
Kondisi pasien saat ini baik dan masih diisolasi di rumah sakit tersebut.

Departemen Kesehatan telah menetapkan langkah-langkah untuk mengatasi penyakit yang
sudah merebak di 99 negara di dunia, dengan:
  1. Meningkatkan kewaspadaan di seluruh jajaran kesehatan serta mengirimkan Surat Edaran baru dari Menkes dan Dirjen P2PL yang menyatakan adanya kasus influenza H1N1 baru di Bali dan Jakarta.
  2. Meningkatkan aktivitas semua fasilitas kesehatan di RS, KKP, Laboratorium dan sarana kesehatan lainnya.
  3. Meningkatkan kesiapan logistik serta kemampuan SDM.
  4. Meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat (Jumpa Pers, Iklan Layanan Masyarakat, Talkshow di Radio dan Televisi, Poster dan Leaflet) .
  5. Masyarakat dapat menghubungi Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) : Telp. (021) 4257125; Fax : (021) 42877588 ; Email : poskoklbp2pl@yahoo.com ; Call Center: (021) 30413700; Website Depkes : www.depkes.go.id dan www.penyakitmenular.info

9. Apakah sudah ada obat atau vaksin yang ampuh untuk flu baru H1N1?
Sampai saat ini belum ada vaksin yang ampuh untuk mencegahanya. Obat antiviral yang
masih efektif untuk pengobatan adalah Oseltamifir (Tamiflu), dengan catatan segera
mendapatkan pengobatan setelah merasa sakit flu.

30 Juli 2009

Depkes : Virus Santri Tebuireng Bukan Flu Babi


Sumber : surabaya.detik.com

Tim Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan mengunjungi Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (30/7/2009). Tim Dirjen Depkes itu juga memeriksa kesehatan para santri yang masih diisolasi.

Seusai memeriksa santri yang diisolasi di Wisma Ilyas, Dirjen P3L Depkes, Tjandra Yoga Aditama menyatakan para santri tidak terserang virus flu babi atau A-H1N1 melainkan hanya flu berat.

"Virus yang diderita para santri, tidak ada hubungannya dengan virus flu babi karena tidak berhubungan dengan babi," kata Tjandra usai menjenguk santri yang diisolasi.

Karena tidak terkait dengan virus flu babi, para santri diharap tidak resah. Namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan.

Menurut Tjandra, data yang dimiliki Depkes RI menyebutkan, 90 persen penderita virus A-H1N1 bisa sembuh tanpa harus masuk rumah sakit atau dirawat inap dengan perlakuan khusus. Sedang tingkat kematian penderita virus tersebut hanya 0,4 persen saja.

Tjandra mendukung langkah pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang mengisolasi para santri yang menderita flu. "Biar tidak menular ke para santri lain," jelasnya.

Sebelumnya puluhan santri mengalami demam tinggi disertai batuk secara mendadak. Dinas Kesehatan Jombang mengambil sample darah dan hasilnya 5 santri Pondok Pesantren Tebuireng positif mengidap virus flu babi.(fat/fat)

23 Juli 2009

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Cegah Flu A-H1N1

Sumber :kompas.com
 
Kesadaran masyarakat akan pandemi virus influenza A-H1N1 harus lebih ditingkatkan lagi. Serangkaian laporan mengindikasikan jumlah orang terinfeksi flu A-H1N1 makin hari bertambah secara signifikan. Mulai sekarang masyarakat perlu digugah untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Demikian terungkap dalam Health Forum bertajuk "Healthy Life, Happy Community" yang dilakukan oleh ASEC (ASEAN Secretariat) of Women's Wing di Jakarta, Kamis (23/7).

Seperti dikutip dari pidato pembukaan Menkes RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari yang dibacakan oleh wakil dari Depkes, mencegah jelas lebih baik dan jauh lebih efisien dibanding melakukan pengobatan pada pasien yang telah positif menderita flu A-H1N1.

Karena itu, masyarakat diimbau turut berkontribusi dalam membatasi dampak penyebaran pandemi. Terutama kaum wanita, diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan, karena kaum wanita memainkan peran penting dalam keluarga dan komunitas.

Sementara media massa sebagai penyampai pesan ke publik diharapkan menyampaikan berita yang proporsional, kritis, serta memberi masukan positif. Peranan media pada titik ini adalah membagikan informasi yang komunikatif-edukatif.

Presiden Direktur ASEAN Secretariat of Women's Wing, Vennila Pushpanathan sendiri menyatakan, "Kita perlu memiliki kepedulian pada kesehatan serta menyanterkan pendidikan kesehatan yang baik. Generasi penerus seyogyanya dipersiapkan untuk bekerja sukarela bagi program pembangunan komunitas sosial." M9-09

20 Juli 2009

Masyarakat Dapat Mencegah Penularan Influenza A H1N1

Posted from : depkes.go.id
Masyarakat mempunyai andil besar untuk ikut mencegah penularan influenza A H1N1, yaitu dengan perilaku hidup bersih dan sehat diantaranya mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter.

Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Namun angka kematiannya sangat rendah yakni 0,4%.
Hal itu disampaikan Prof. Tjandra Yoga Aditama, Sp. P (K), MARS, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes tentang perkembangan kasus di Indonesia sampai tanggal 20 Juli 2009.

Untuk mencegah penyebarannya di Indonesia, upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan yaitu : penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Upaya lainnya berupa community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu perawatan di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Hari ini (20/07/09) kasus positif influenza A H1N1 bertambah lagi 15 kasus (5 laki-laki dan 10 perempuan). Mereka berasal dari RS/Dinkes Jakarta 6 orang, RS/Dinkes Provinsi Banten 6 orang, RS/Dinkes Provinsi Jawa Timur 1 orang, dari RS/Dinkes Provinsi Jawa Tengah 1 orang, dan dari RS/Dinkes Sumatera Utara 1 orang. Lima di antara mereka memiliki riwayat pergi ke luar negeri yaitu ke Malaysia (1 orang), Amerika (2 orang), dan Singapura (2 orang), kata Prof. Tjandra.

Dengan demikian, sampai tanggal 20 Juli 2009, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia berjumlah 172 orang terdiri dari 86 laki-laki dan 86 perempuan. Data kasus berdasarkan tanggal pengumuman yaitu 24 Juni (2 kasus), 29 Juni (6 kasus), 4 Juli (12 kasus), 7 Juli (8 kasus), 9 Juli (24 kasus), 12 Juli (12 kasus), 13 Juli (22 kasus), 14 Juli (26 kasus), 15 Juli (30 orang), dan tanggal 16 Juli (15 kasus).

Tambahan kasus baru positif berasal dari RS/Dinkes Jakarta yaitu : JR (Pr, 42 th), DN (Pr, 27 th), IM (Pr), KK (Pr, 7 th), Sa (Pr, 32 th), dan FF (Pr, 22 th). Yang berasal dari RS/Dinkes Banten yaitu FH (Lk, 13), AH (Lk), SP (Lk, 17 th), MF (Lk, 17 th), MF (Lk, 14 th), dan YF (Pr, 16 th). Yang berasal dari RS/Dinkes Prov Sumut yaitu Ju (Pr, 31 th). Yang berasal dari RS/Dinkes Prov Jateng yaitu RH (Pr, 18 th). Yang berasal dari RS/Dinkes Prov Jatim yaitu EF (Pr, 18 th).